Wednesday, February 18, 2009

Inspirasi dan Keberanian Bertindak

(Maaf cross posting dari ariefadiwibowo.multiply.com)

Di penghujung makan malam yang menyenangkan bersama Silvie di Tesate-Plasa Senayan, kami mendapatkan kesempatan mendapatkan door prize. Dari kotak undian, selembar kertas dibaca, bukan sebuah hadiah discount atas makan malam kita, bukan juga hadiah lain, melainkan serangkaian kalimat. Sempat kami sedikit kecewa, namun buru-buru bersyukur atas pemberian dalam secarik kertas itu.


"Jangan menunggu inspirasi untuk memulai tindakan. Melainkan, bertindaklah untuk memberikan inspirasi." Begitu kira-kira isi dari hadiah itu. Hadiah yang menyentil diri sendiri untuk mengingat kembali arti tindakan. Maklum, sebagian besar karir profesional dan latar belakang pendidikan lebih berkutat pada perhitungan dan perencanaan.

Kepiawaian dalam perencanaan tidak serta merta membuat seseorang piawai dalam mengeksekusinya. "Planning the work, sangat berbeda dengan working the plan. Dalam perencanaan, Anda hanya dihadapkan pada resiko di atas kertas. Berbeda saat eksekusi, Anda akan bergelut langsung dengan resiko itu dalam dunia nyata. Dan, Sangat langka seorang pemimpin yang memiliki kedua kemampuan itu sama baik." Begitu seorang teman yang pakar HR pernah berkata.

Banyak manajer sering berlindung pada kata "manajerial" untuk menghindari resiko gagal dalam eksekusi. "Toh, job description saya adalah merencanakan dan mengevaluasi. Jadi tugas saya memberi pekerjaan, dan marah-marah atas kegagalan dari pekerjaan itu." Sebuah asumsi yang diperbaiki oleh Ram Charan dengan kritik tajamnya, bahwa manajerial adalah eksekusi.

Eksekusi adalah tindakan. Dan, dalam segala ketidakpastian, dan dinamika persaingan yang menuntut kecepatan, membuat eksekusi diharuskan melibatkan 3 hal : common sense, keberanian dan kelenturan. Common sense diperlukan untuk dapat menjaga kejernihan pikiran untuk mencapai semua tujuan yang sudah direncanakan. Logika yang sehat akan berusaha untuk mencari solusi terbaik dari sekian alternatif solusi atas setiap permasalahan yang muncul di tengah perjalanan eksekusi.

Keberanian, adalah perangkat lunak yang wajib dimiliki oleh setiap manajer. Terutama dalam menghadapi kata resiko yang secara kodratnya memang tidak bisa dieliminasi dalam perhitungan perencanaan. Keberanian, adalah atribut yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Bahkan dalam banyak literatur tentang seni memimpin, keberanian menentukan kualitas dari sang pemimpin itu sendiri.

Keberanian menyangkut bagaimana dia mengambil resiko atas tiap tindakan, termasuk kecepatan dalam mengambil keputusan. Melindungi orang yang dipimpinnya dari setiap kemungkinan kegagalan yang muncul. Di satu sisi, keberanian juga harus menyadari benar hakikat dari sebuah mekanisme pengambilan keputusan. Kadang sebuah keputusan untuk tidak melakukan apapun (do nothing alias diam) bisa jadi keputusan terbaik, namun bisa juga tidak. Semua bergantung kondisi.

Terakhir kelenturan. Kelenturan untuk membelokkan arah dari tujuan ketika terjadi krisis yang membuat tujuan awal menjadi tidak relevan lagi. Kelenturan sendiri menuntut level wisdom yang hanya akan dimiliki lewat perjalanan pengalaman dan kemampuan membaca pelajaran dari sang waktu.

Di akhir semuanya, selain tindakan, saya teringat kisah menarik dari perilaku mantan bos. Ketika selesai rapat yang membahas semua agenda penting, ketika semua rencana sudah dimatangkan, semua tindakan sudah disiapkan, Sang Bos lalu keluar ruang rapat. Dia berdoa dengan membawa dupa di tangannya (sesuai dengan agama yang dianutnya). Begitu khusyuk.

"Selalu ada kekuatan di atas kita. Itu sebabnya kita tidak bisa mengetahui hari esok kecuali mengira-ngira saja......" Kata Bos ketika ditanya mengapa dia harus berdoa seperti itu.

Friday, October 31, 2008

Wajah Pengukuran Kepermirsaan dan Riset Media Kini

Masuk dalam babak baru, raksasa-raksasa media muncul dengan agresifitas yang luar biasa. Bukan saja dalam kekuatan kapital, namun lengkap dengan teknologi dan sumber daya manusia terbaik. Sebut saja, MNC, Trans Corp,dan super grup lainnya. Belum lagi penetrasi tv berbayar. Setelah Astro yang sempat fenomenal (meski harus berakhir karena masalah kongsi), ada pendatang baru Aora dan Telkomvision yang akan bertarung memperebutkan kue dengan pemain lama seperti Indovision dan Kabelvision. Kondisi ini membuat perubahan luar biasa dalam industri media khususnya riset media : pemirsa semakin terfragmentasi.


Contoh gampang dari fragmentasi ini adalah semakin kecilnya kue tiap pemain dalam industri. Di free to air misalnya, penguasaan share antara 4 besar tidak jauh berbeda angkanya. Dan dalam pengukuran kepemirsaan, semakin tipisnya perbedaan ini membuat kebutuhan terhadap besaran sample semakin tinggi. Sehingga pengukuran kepermisaan yang terfragmentasi ini masih dapat dilakukan dengan sampling error yang baik.


Masalah kedua dari industri ini terletak pada berubahnya sistem delivery-nya. Jika dulu, baik radio maupun TV di-delivery secara linear, sehingga letak kontrol materi apa yang muncul sepenuhnya pada para programmer,sekarang kemewahan itu mulai tergerus. Pemirsa memiliki kekuasaan yang semakin besar dikarenakan nonlinear delivery system dari media seperti video on demand (VOD), world wide web, dan DVR. Mengutip lagi ucapan John Malone yang legendaris mengenai 500 channel universe, dengan ratusan channel, maka pemirsa lah penentu apa yang mereka inginkan lewat jari mereka. Time-shifting program dan tingkat menghindari pesan komersial membuat semakin kompleksnya proses pengukuran kepemirsaan. Sebuah pertanyaan menarik dari James Webster patut direnungkan, if exposure is the currency used to transact business, what kind of exposure should we talking about?


Problem ketiga masih saling terkait dengan kondisi di atas. Konten media bergerak dalam multiplatform, faktor yang memungkin pemirsa tidak saja menentukan kapan dia memilih konten melain juga lewat medium apa. Televisi tidak lagi Cuma dinikmati di ruang keluarga, tapi bisa di sepanjang perjalanan dalam mobil, atau lewat handphone.


Semua kondisi di atas memunculkan tuntutan-tuntutan terhadap kepresisian, micro targeting audience. Sebagai misal, sebuah merek yang ditujukan bagi konsumen 18-25 tahun, tentu hanya tertarik dengan jangkauan pemirsa di interval usia tersebut. Total rating harus bisa dibreakdown ke dalam index dengan kata lain total rating sample harus bisa ditelusuri dalam subsample-nya.


Tuntutan makin tinggi untuk membuat alat ukur yang powerful dan memiliki fleksibilitas tinggi dalam mengukur konsumsi media. Membuat perusahaan-perusahan (Nielsen, Arbitron, TNS) yang bekerja di bidang ini terus mencari cara terbaru. Sistem diary yang berdasarkan catatan kebiasaan memirsa semakin ditinggalkan, digantikan oleh people meter yang memiliki kemampuan untuk melakukan tracking pemirsa dalam basis per detik. People meter merupakan metode pengukuran kepemirsaan TV yang memungkinkan pencatatan konsumsi media di rumah tangga. Set-box yang ditempelkan dalam perangkat televisi akan mencatat setiap channel yang ditonton. Kemudian rekaman aktifitas memirsa ini dikirimkan melalui jalur telpon, dikombinasikan dengan data-data lain dan dirangkum dalam sebuah pelaporan rating yang berlangsung dengan cepat setiap harinya.


Kesulitan yang kemudian muncul adalah tingginya tingkat kerjasama responden (anggota rumah tangga) dalam waktu lama. Kemungkinan terbesar munculnya apa yang disebut button-pushing fatigue membuat masalah tersendiri. Demikian pula dengan mobilitas responden. People meter tidak mampu mengikuti aktifitas responden di luar ruangan. Begitu juga dengan konsumsi mereka terhadap media lain.


Kesulitan di atas membuat people meter pun berevolusi, salah satunya dengan membuatnya menjadi portable. Atau yang sering disebut dengan portable people meter (PPM). Dikembangkan oleh Arbitron, sebuah lembaga pengukuran yang bertanggung jawab untuk mengukur tingkat pendengar radio di AS, PPM didisain untuk dapat mendengar kanal radio yang dipilih oleh pendengar melalui identifikasi gelombang. Di masa mendatang, PPM memungkinkan untuk digunakan dalam mengukur eksposure media cetak dengan menempelkan chip radio frequency identification pada media cetak. Atau, iklan luar ruangan dengan kombinasi teknologi GPS.


Problem dari PPM sama dengan people meter biasa, yaitu ukuran sample. Karena mahalnya teknologi ini. Saat ini pengembangan pengukuran kepemirsaan difokuskan dengan pemanfaatan handphone. Sebagai alat yang sudah umum digunakan oleh publik, ukuran sample bukan jadi masalah. Handphone kedepan akan diprogram untuk dapat mengidentifikasi gelombang dan memprosesnya menjadi informasi rating. Nielsen Media Research bekerja sama dengan Integrated Media Measurement Inc, dan kolaborasi Media Audit-Ipsos adalah institusi riset yang sedang mengeksplorasi pengembangan ini.


Menarik untuk diikuti...

Sunday, August 19, 2007

Memahami Kekosongan (2):Lima Unsur Musashi

"Saat memahami nilai perlengkapan pertempuran, Anda melihat bahwa masing-masing, sesuai dengan waktu dan peristiwanya, mengomunikasikan maknanya sendiri. Pedang pendek seringkali bermanfaat saat kau mendekati lawan di tempat sempit....di medan pertempuran, tombak berkapak dianggap kurang menguntungkan dibandingkan tombak. Tombak bertindak sebagai pelindung depan, sedangkan tombak berkapak sebagai pelindung belakang.
....Namun berkaitan dengan senjata, sama seperti hal lainnya, kau tidak boleh membeda-bedakan atau memilih. Kau harus mengambil apa yang sesuai untuk diri sendiri dan menggunakan senjata yang dapat kau kuasai tanpa meniru orang lain..."


Tulisan Musashi dalam The Book of Five Rings menjadi sangat inspiratif. Dalam konteks pertempuran modern yang terjadi dalam pasar global yang kompleks, inti sari dari gagasan Musashi pada tahun 1645 ini masih cukup relevan. Mirip dengan pertempuran yang dialami Musashi sebagai samurai, perusahaan juga memiliki resiko yang sama:terbunuh di medan perang.

Tidak ada senjata dan strategi yang mampu menjawab segala masalah. Itulah prinsip Musashi. Sebagai samurai yang memiliki rekor tak terkalahkan sepanjang hidupnya, Musashi mencoba merenungkan apa yang membuatnya memiliki kesuksesan seperti itu. Dan ternyata, bukanlah keterampilan menggunakan samurai atau kecepatan geraknya-lah yang membuatnya tak tertandingi. Melainkan, kelengkapan lima cincin atau lima unsur.

Pertama, unsur bumi, yang melambangkan cara pandang dasar tentang prinsip seni bela dirinya. Kedua, unsur air, karena gaya bertempur Musashi yang dilandasi sifat mengalir dan kemurnian. Ketiga, Api, karena kekuatan energi dan kemampuan berubah dengan cepat. Keempat, Angin karena makna gandanya. Kelima, adalah kekosongan itu sendiri, sumber dari segala unsur tadi.

Memahami kekosongan sangatlah rumit. Karena seseorang atau korporasi dituntut untuk mampu membaur dengan alam, dengan pasar. Membiarkan pikiran tidak terperangkap dalam sebuah kerangka. Tidak terpaku dalam satu arah. Karena dengan demikian, menurut Musashi, pikiran akan berada di segala arah, dan memiliki kemampuan hebat dalam mencium arah perubahan. Simak penuturan Musashi sebagai berikut:"Saat pertama kali memperhatikan pedang yang bergerak menyerang Anda; jika Anda berpikir akan menangkis pedang itu sebagaimana adanya, pikiran Anda akan berhenti pada pedang di posisi tersebut,....gerakan Anda sendiri tidak terselesaikan, dan Anda akan dirobohkan oleh lawan."

Memerlukan disipin, begitu tutur sang samurai. Disiplin untuk dapat meletakkan pikiran di segala arah, sekaligus memperluas pikiran ke seluruh tubuh (baca :tubuh individu maupun korporasi). Disiplin yang hanya bisa didapatkan dari pikiran dan jiwa tanpa ketidakjujuran. Murni pikiran dan jiwa yang hanya meletakkan kepentingannya pada alam, atau dalam konteks korporasi meletakkan kepentingan pada pasar belaka....

Untuk kekosongan (1), silahkan buka : www.ariefadiwibowo.multiply.com




Wednesday, July 04, 2007

Dibutuhkan : Pasukan 'Gila'

(Maaf sengaja Cross-Posting dengan konten di www.ariefadiwibowo.multiply.com. Dilakukan dengan kesengajaan untuk memperluas coverage topik ini)


Pertemuan dengan Prof Syafe'i Ma'arif di salah satu sesi workshop di kawasan Kemang menyisakan kenangan berharga. Yaitu, harapan seorang guru bangsa pada generasi selanjutnya.

Berawal dari kegundahan hati sang Guru terhadap kondisi bangsa saat ini. Korupsi yang merajalela di birokrasi. Deindustrialisasi, banyak industri riel tumbang karena tidak kompetitif. Dan celakanya, bangsa ini terlihat sangat tidak peduli. Sibuk dengan urusan masing-masing, dan kepentingan jangka pendeknya.

"Porter ada benarnya. Ketika dia kritik keburukan mental set bangsa kita. Bahwa kita hanya berpikir menghabiskan kue yang ada daripada membuat kue-kue baru...."Tutur sang Guru mengutip pernyataan Michael Porter - guru besar dari Harvard- ketika berkunjung ke Indonesia novermber tahun lalu (di www.sajuta.blogspot.com pernah ditulis soal kunjungan ini). Begitu rakusnya kita. Begitu takutnya kehilangan jatah, sehingga sikut sana sini jadi wajar. Begitu pula embat (ambil,red) sana sini jadi biasa, ga peduli status halal atau haram lagi.

Sang guru terlihat seperti frustasi sendiri hari itu. "Sistem yang korup, mentalitas masa bodoh, plus kepemimpinan yang lemah, membuat situasi ini seperti lingkaran setan yang sulit diputuskan."ujarnya. Terutama masalah kepemimpinan, sang guru menyebutkan bahwa sejarah memang belum berpihak pada negeri ini. Di mana sepanjang sejarah bangsa ini, kepemimpinan seperti mandeg.

Sambil menghela napas, sang guru meneruskan," Akhirnya, dibutuhkan sekumpulan pasukan gila. Profesional maupun pengusaha yang gila. Berani menantang keadaan. Berpikir lurus, berbudi luhur dan selalu mementingkan kepentingan orang banyak. Meski memang manusia-manusia seperti ini menjadi langka di negeri ini. Tapi, sang Guru nampak tetap optimis.

"Bangsa ini memang masih dalam proses sejarahnya. Kita sebagai bangsa belum sematang Amerika Serikat sebagai bangsa. Proses masih panjang. Dan kita perlu belajar bagaimana Amerika bisa bangkit dulu...." tutur sang Guru. Dia pun mengutip salah satu esensi dari tulisan seorang penulis Prancis. Bahwa Amerika bisa memperoleh pencapaian luar biasa ini lewat usaha keras mereka, dan lewat kreatifitas mereka. Ungkapan yang langsung mengena di diri ini.

Dan yap, mari kita hiasi langit negeri ini dengan karya-karya kreatif kita. Dengan semangat membangun. Dengan menata lagi mental model kita, mengisinya penuh dengan budi pekerti.

Terima kasih untuk pembelajarannya, Prof. Dan saya yakin, harapan Anda akan terkabul. Akan berduyun-duyun anak bangsa ini berdiri di barisan pasukan 'gila' negeri ini....

Wednesday, May 16, 2007

Tren Manajemen 2007 versi Bain&Company

Membaca studi Bain&company, ada beberapa temuan mereka yang menarik perihal tren manajemen 2007. Pertama, kesadaran para pemimpin bisnis untuk melihat hal selanjutnya setelah pemangkasan biaya sebagai hal penting menuju sukses. 9 dari 10 eksekutif setuju budaya memiliki peran strategi untuk mencapai kesuksesan bisnis. Isu lingkungan menjadi perhatian banyak eksekutif di Cina dan beberapa negara berkembang, dengan besaran 77% dari responden jauh lebih besar dari eksekutif di negara maju dengan nilai 55%.

Kedua, perusahaan cenderung untuk melihat keluar untuk memacu pertumbuhan. 5 dari 10 eksekutif menilai bahwa dengan menjalin kerjasama dengan Cina dan India akan menjadi kunci sukses dalam jangka panjang (5 tahun ke depan).

Kemudian inovasi menjadi prioritas. Dimana, 8 dari 10 responden percaya bahwa inovasi lebih penting dari sekadar pemangkasan biaya dalam mencapai sukses jangka panjang. Dan untuk meningkatkan inovasi, eksekutif memandang penting untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain, termasuk kompetitor mereka sekalipun.

Terakhir, TI masih dipandang sebagai sesuatu yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif. Hanya 3 dari 10 responden yang merasa perusahaan mereka telah melakukan investasi TI dengan tidak benar. "We rarely achieve expected paybacks from our IT investment", demikian menurut minoritas suara ini.

Monday, April 09, 2007

10 Perusahaan Ternyaman&Terbaik 2007:Sebuah Jawaban

Salam Marketer,
Minggu lalu saya sempat melihat Cover depan Majalah SWA.
disitu tertulis "10 Perusahaan teryaman dan terbaik 2007" employer choice...
bisa gak disharing siapa aja 10 perusahaan tersebut??? dan kreteriannya apa?? dari sisi mana melihatnya?
Mungkin marketer ada yang tahu....
Terima Kasih
Best Regards,
K h o i r i >>>
=====================
Bapak Khoiri
di
Tempat

Salam marketer,
Pertama kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya pada salah satu produk kami,majalah SWA. Selain SWA, kelompok media SWA juga menghasilkan majalah MIX untuk melayani kebutuhan informasi dan pengetahuan secara spesifik untuk para pemasar, public relation dan periklanan.

Employer of Choice yang menjadi cover story pada edisi 07 merupakan hasil kerjasama dengan mitra SWA, Hay Group-perusahaan konsultansi global. Dan tahun ini telah memasuki pada tahun kedua. Metodologi tidak ada perubahan dibandingkan tahun lalu, model Engaged Performance. Hanya saja, pada tahun kedua ini, baik jumlah perusahaan maupun karyawan sebagai responden meningkat jumlahnya secara signifikan. Di tahun ini melibatkan 42 perusahaan dan 10.670 karyawan dibandingkan tahun lalu 31 perusahaan dengan 5.080 karyawan.

Pemilihan responden dari perusahaan partisipan dilakukan dengan ketat untuk menjamin akurasi survei. Sampling dilakukan secara acak berjenjang dengan metode solvin. Sehingga didapatkan ketercukupan jumlah sampel di tiap level jabatan, kelompok masa kerja dan bidang pekerjaan yang ditetapkan. Dengan keseluruhan proses memakan waktu hingga 3 bulan.

Secara mudah, model Engaged Performance dapat dijelaskan sebagai model untuk melihat bagaimana korelasi antara tiga faktor utama penggerak tumbuhnya komitmen karyawan: efektifitas Personal, efektifitas organisasi dan growth&opportunity. Dari ketiga faktor utama, diturunkan lagi dalam 7 subfaktor :efektifitas internal, fokus bisnis eksternal, job enablement, supervision, kerjasama, manajemen kinerja dan manajemen talenta. Dari hasil olahan data dengan regression analysis untuk mencari key driver komitmen karyawan, didapatkan bahwa selain kepemimpinan, manajemen talenta,fokus bisnis internal dan direction (arah perusahaan) adalah 4 faktor yang menjadi key driver dari tingkat komitmen karyawan.

Dari olahan akhir didapatkan urutan perusahaan pilihan karyawan berdasar employer of choice (EoC) index, sebagai berikut : (1) PT Astra International Tbk (2) PT TNT Indonesia (3) PT Bank Niaga Tbk (4) PT Dexa Medica (5) PT Microsoft Indonesia (6) PT Federal International Finance (7) PT Soho Industri Pharmasi (8) PT Bank Central Asia (9) PT Bintang Toedjoe (10) PT Frisian Flag Indonesia. Baik index dan penjelasan detil bagaimana Top 10 EoC ini membangun tiap key driver dapat dilihat dalam Sajian Utama SWA edisi 07 halaman 35-40.

Menutup penjelasan kami, sebenarnya pesan terpenting dari Sajian Utama SWA kali ini adalah bagaimana perusahaan dapat mempelajari lebih dalam mengenai semua faktor yang mempengaruhi tingkat komitmen karyawan. Dari sini, perusahaan dapat mempersiapkan berbagai skema untuk meniadakan masalah yang muncul sekaligus terus memperkuat key driver komitmen dengan berbagai langkah. Mengutip tulisan Teguh Sri Pambudi (Redaktur Kompartemen Manajemen SWA) dan Christian Siboro (Konsultan Hay Group),"Melihat indikasi survei kali ini dan temuan global, maka terlihat makin critical-nya peran kepemimpinan dan talent management dalam meningkatkan peran komitmen karyawan. Ini sebaiknya menjadi perhatian." Ya, kepemimpinan dan manajemen talenta menjadi isu sentral di kancah war of talent di era knowledge economy saat ini.

Wassalam,


Arief Adi Wibowo

Thursday, March 29, 2007

Dan Mereka Memilih......

Sebagai pelengkap, SWA melakukan riset tersendiri dengan tujuan mengetahuiapa saja perusahaan idaman dari responden di luar perusahaan yang mengikuti survei EoC 2007. Dalam riset ini, digunakan pendekatan top of mind dari responden yang diambil secara acak. Awalnya, diupayakan dua target responden: pencari kerja (job seeker) yang belum mendapat pekerjaan, dan yang sudah memiliki pekerjaan. Namun, karena ketidakcukupan data untuk melakukan cross-tabulation, maka hasil survei hanya didapatkan perusahaan idaman untuk pencari kerja saja. Dan siapa yang mereka pilih : (1) PT Telkomunikasi Indonesia, Tbk (2) PT Unilever Indonesia, Tbk (3) PT Astra International,Tbk (4) Kelompok Kompas-Gramedia (5) PT Bank Mandiri, Tbk (6) Bank Indonesia (7) PT Pertamina (8) PT Conoco Phillips (9) PT Microsoft Indonesia (10) PT Total E&P Indonesia.

Untuk mendapatkan alasan utama di balik pemilihan perusahaan idaman tersebut, SWA melakukan survei secara face to face, sehingga dimungkinkan eksplorasi di dalamnya. Tercatat 100 responden yang terbagi menjadi 55% pria dan 45% wanita. Latar disiplin ilmu mereka juga beragam: teknik (27%), Manajemen(17%), Ekonomi/Akutansi(15%), Komunikasi (13%), dan Ilmu Dasar (8%).

Hasilnya, 22% mengatakan “Top 10 perusahaan paling diidamkan ini memiliki standar gaji dan benefit yang jauh lebih tinggi di industrinya”. Di samping itu, 13,42% responden menganggap sistem pelatihan dan pengembangan karyawan perusahaan-perusahaan ini adalah yang terbaik. Citra perusahaan yang baik rupanya juga sudah menjadi salah satu faktor yang dilihat dalam memilih perusahaan, sekitar 10,5% responden memilih alasan ini.

Dari survei, didapatkan semua responden pada umumnya berusaha mencari informasi mengenai perusahaan-perusahaan ini secara aktif. Empat kanal utama mereka berturut-turut adalah; media massa (23,57%), Internet (23,21%), teman (19,64%), dan profesional yang bekerja di dalamnya (17,86%). Informasi yang mereka gali pun lumayan detil, rata-rata berupaya mengetahui profil perusahaan, sistem pelatihannya hingga prestasi dan pencapaian lain.

Saat ditanyakan faktor apakah yang dapat membuat para pencari kerja ini nyaman dalam bekerja, sebagian besar (30,69%) menyatakan “Lingkungan kerja yang kondusif membuat mereka nyaman”. Faktor dominan yang kedua, adalah gaji dan benefit yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspektasi mereka (29,70%).

Terlepas dari kelemahan yang ada, inilah pilihan mereka tentang perusahaan idaman, dan mengapa mereka memilihnya.

Arief Adi Wibowo & Sarah Agisty, bekerja di departemen riset dan data bisnis SWA